Berjalan bersamaku.

bukitcinta Hai Nona Manis, bagaimana harimu? Semoga menyenangkan, seperti senyummu.

Aku tak pandai menyusun kata demi kata, berbicara pun enggan. Tetapi aku tak bisa menahannya. Gejolak dalam diriku terus memaksa, perintahkan jemariku untuk menulis, membawa pikiranku menuju kepadamu.

Perasaan apa ini, aku tak bisa menggambarkannya. Hangat, seperti kopi pertama yang aku tengguk dipagi hari. Sejuk, seperti suara ombak yang mengalun indah ditelingaku.

Apakah ini yang namanya cinta? Cinta? Ini bukan paragraph klise, bukan? Mengapa aku sedikit skeptis mendengarnya?

Hai Nona Manis, sungguh tak terbayang engkau terucap dalam setiap doaku, menari indah dalam pikiranku, dan bersemayan tenang didalam hatiku.

Hai Nona Manis, maafkan setiap keraguan yang telah terucap, setiap keegoisan yang memaksa, dan setiap kegagalan yang kita lalui bersama.

Hai Nona Manis, ketika aku mulai lelah menghadapi dunia, masihkah engkau bersedia bersandar dipundaku sembari berkata.“Iyek, semua akan baik-baik saja”

Aku paham. Sekuat-kuatnya aku kalo sendiri gak akan pernah cukup. Karena semua orang paling takut ketika ia sendirian.

Karna itu, maukah engkau berjalan bersamaku? Nona…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s