Bagaimana Kopi Pagi Ini?

Coffee

“nak, tolong buatkan kopi biasanya untuk kita berdua” Kata Ayah

“iya, bentar ya yah” Sahutku

“tumben cepat, sini coba kau duduk dekat Ayah. Kita nikmati kopi di pagi yang sejuk inii” Kemudian Ayah menyela

tiba-tiba gerimis datang

“nak, sudah berapa umurmu sekarang?” Tanyanya dengan sedikit serius

“20 tahun yah, kenapa yah tumben banget” Jawabku

“tidak terasa sudah besar rupanya kau, itu artinya ayah sudah semakin tua saja, apalagi kau anak bungsu. Sebentar lagi generasi Ayah sudah habis, sebentar lagi giliranmu nak”

Sang Ayah menghirup kopinya pelan-pelan

“Begini anakku, ayah kan semakin lama semakin tua. Diumur ayah yang sudah lebih dari kepala enam ayah ingin berpesan sama kamu”

“iya yah, kenapa?”

“Ayah cumna pengen bilang. Pertama. Jadilah manusia yang selalu mengingat dzat yang menciptakan manusia, Allah. Tuhanmu. Jangan sekali-kali durhaka pada-Nya. Jangan pernah kau dustakan nikmat-Nya. Jangan pula kau berpaling dari-Nya. Rajin-rajinlah mengabdi pada-Nya sehingga serajin apapun kau meminta Dia akan mengabulkan. Ingat, Nak..ketika tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang dapat menolongmu, sesungguhnya Dia bisa, karena Dia-lah Yang Maha Bisa.”

Kedua. Berbuat baiklah kepada orang tuamu, kepada Mami dan Ayahmu ini. Ayah bilang berbuat baiklah, Nak. Berbuat baik kepada orang tua bukan berarti selalu menuruti perintah Ayah. Ayahmu sudah makin tua, Mami juga sudah tiada, kaupun makin dewasa. Terkadang dalam beberapa hal kamilah yang salah dan kamulah yang benar. Maka, cernalah dulu seruan dari kami. Kalau itu baik turutilah, kalau itu tidak baik bantahlah seakan-akan kamu menurutinya.”

Ketiga. Sayangilah saudara-saudarimu, kakakmu-mu dan mbak-mu. Jadilah kalian empat bersaudara yang selalu kompak yang mengutamakan musyawarah bukan amarah. Kamu anak terakhir bukan berarti kamu yang harus selalu menurut. Jadilah seorang adik yang bisa diandalkan oleh kakak-kakamu.”

Sang Anak menghirup dan menikmati setiap tegukan kopi nya

“Ahh..nikmat benar kopi ini, Yah..”

“Itu karena kau yang membuatnya, Nak.”

“Baiklah Ayah lanjutkan yang Keempat. Jadilah seorang pemimpin yang baik, seperti doaku yang kusematkan pada namamu, Arfebriyanto Syahrir. Paling tidak pimpinlah dirimu sendiri agar tidak tersesat di dunia yang penuh muslihat. Setelah itu kau pimpin keluargamu mencari jalan menuju surga, dan jangan berhenti memimpin mereka sampai kau benar-benar yakin bahwa kalian telah sampai. Barulah setelah itu kau boleh memimpin orang lain, Nak. Doa Ayah kau bisa memimpin orang banyak menuju kebaikan agar kelak banyak juga orang yang mendoakanmu kalau Ayah sudah tak sanggup lagi berdoa untukmu.”

Kelima. Jadilah lelaki pemberani yang selalu berhati-hati. Jangan pernah sekalipun kamu takut dengan makhluk selain Allah, Tuhanmu. Kalaupun kau masih merasa takut, percayalah bahwa Tuhanmu adalah Yang Maha Menenangkan Hati Manusia, mintalah ketenangan dari-Nya. Jadilah pula lelaki yang tangguh, yang tidak mudah dirobohkan oleh kesulitan, yang selalu bisa cepat berdiri ketika tersungkur oleh permasalahan. Diatas semua itu, berhati-hatilah membelanjakan hidup yang kau terima dari Sang Maha Pemberi Hidup.”

Keenam. Jadilah lelaki yang bisa diandalkan orang lain. Jadilah lelaki yang selalu ditanyakan kehadirannya. Jadilah pria yang selalu dinanti kebijaksanaannya. Jadilah laki-laki yang selalu dibutuhkan kepandaiannya. Jadilah pejantan yang selalu berguna. Untuk itu panenlah segala ilmu pengetahuan yang telah disebarkan oleh Tuhan di muka bumi ini. Berhentilah belajar ketika ragamu sudah tak mampu belajar. Jangan pernah kamu berhenti belajar hanya karena kamu banyak bertemu orang yang tak pintar. Sesungguhnya sampai kapanpun kamu adalah bodoh karena ada Yang Maha Pintar, Maha Menguasai Segala Ilmu Pengetahuan.”

Mereka meneguk kopi yang makin dingin. Sementara di luar hujan tak kunjung reda

“Sudah sampai berapa tadi, Nak? Ayahmu yang sudah tua ini lupa.”

“Sekarang yang ketujuh, Yah.”

“Aahh..iya, Ketujuh. Cari dan dapatkan istri yang baik, Nak. Kau sudah besar, sudah saatnya kau memikirkan kemungkinan menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Carilah seorang wanita dengan melihat 4 hal tentangnya : rupanya, hartanya, nasab atau keturunanya, dan agamanya. Dari keempat hal itu utamakanlah dalam hal agamanya baru rupa dan hartanya. Kau tahu mengapa?”

“Memangnya kenapa, Yah?”

“Harta dan rupa itu sifatnya relatif, Nak. Cantik menurutmu dan cantik menurut Ayah itu berbeda. Kaya menurutmu dan kaya menurut pengemis itu beda. Sedangkan agama itu sudah ada standarnya. Jangan kau remehkan, karena standarisasinya dibuat oleh Dzat Yang Maha Mengatur dan Menghukum.”

Kedelapan. Kalau kau sudah menemukan wanita itu dan menghalalkannya bagimu, maka jadilah seorang suami yang baik. Jadilah suami yang selalu menyayangi istri. Jadilah suami yang selalu membimbing istri. Jadilah suami yang selalu melindungi istri. Jadilah suami yang selalu menjaga kehormatan istri. Dan jadikanlah istrimu sebagai ladang pahalamu, jangan jadikan sebagai lahan dosamu. Hormatilah istrimu sebagaimana kau menghormati ibumu, karena istrimu adalah ibu bagi anak-anakmu sedangkan kau adalah teladan bagi putra-putrimu.”

Kesembilan. Kalau besok lahir putra-putri bagimu, ingatlah bahwa mereka adalah anugerah berbalut amanah dari Tuhan. Syukurilah anugerah itu dengan cara menjaga dan melindungi mereka. Sayangilah mereka, tapi jangan melebihi rasa sayangmu pada Tuhanmu. Bimbinglah mereka dengan tegas dan penuh kesantunan. Didiklah mereka menjadi anak-anak yang baik. Jadikanlah mereka jembatanmu menuju surga dengan cara mengajarkan pada mereka untuk selalu mendoakanmu.”

“Aku ingin menjadi seorang Ayah yang seperti Ayah, Yah…”

“Jangan, Nak..Ayahmu bukan Ayah yang baik. Ayahmu hanya mampu mendukungmu dari belakang, hanya hanya mampu mendoakanmu, ayah hanya mampu mengajak kebaikan, ayah hanya mampu membangunkanmu sholat shubuh walau ayah tau kamu tidur lagi, ayah tau itu, ayah tidak akan memaksamu, kamu sudah besar, kamu harus tau yang terbaik buatmu”

Tak terasa sudah tegukan yang terakhir

“Terakhir, Nak… Ayah minta tolong sama kamu. Bisa?”

“Bisa Yah, kenapa?

“Tolong selamatkan Mami-Ayahmu dari siksa neraka.”

“Bagaimana bisa aku menolong, Yak?”

“Ingat, camkan, dan lakukan kesembilan nasehatku tadi. Karena apa dan bagaimana kamu sekarang adalah hasil perbuatanku. Dan Tuhan akan meminta laporan pertanggungjawabanku tentang kamu dan kakak-kakakmu.”

“Insya Allah yah…”

Bagaimana kopi pagi ini?

Inspiration : Surya Narendra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s